Nama :
Satria Diwo Fathurrahman
Resume
Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran
Penulis : J. K. Rowling
Judul asli : Harry Potter and the Half-Blood
Prince
Penerjemah : Listiana Srisanti
Serial : Harry Potter
Genre : Fiksi, Fantasi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit : 8 Januari 2006
Khawatir dengan
pengalaman pertemuannya dengan Voldemort di Kementerian Sihir, Harry Potter
merasa enggan untuk kembali ke Hogwarts. Dumbledore mendorongnya untuk kembali,
setelah mengajaknya untuk menemui seorang mantan guru Hogwarts, Horace
Slughorn. Dengan bantuan Harry, ia berhasil membujuk Slughorn agar mau kembali
mengajar di Hogwarts.
Sementara itu, Pelahap
Maut mulai menimbulkan kerusakan baik di kalangan Muggle (masyarakat manusia
biasa non-sihir) maupun Penyihir. Mereka menghancurkan Jembatan Millennium
serta menculik pembuat tongkat sihir Mr. Ollivander dan menghancurkan tokonya
di Diagon Alley.
Bellatrix Lestrange berhasil membujuk
Severus Snape untuk melakukan Sumpah Tak Terlanggar dengan ibu Draco Malfoy,
Narcissa. Sumpah ini memastikan agar Snape melindungi Draco dan menyelesaikan
tugas yang diberikan Voldemort kepada Draco, jika Draco gagal melakukannya.
Harry, Ron, dan
Hermione, ketika sedang berada di Diagon Alley, mengikuti lalu melihat Draco
memeasuki toko Borgin and Burkes dan mengambil bagian dalam sebuah ritual
bersama kelompok Pelahap Maut. Selanjutnya, ketiga sahabat ini terus mewaspadai
tindak-tanduk Draco.
Di Hogwarts, sekolah
diamankan secara ketat baik oleh pihak sekolah maupun Kementerian Sihir untuk
memastikan agar Pelahap Maut tidak dapat mendekati sekolah tersebut. Dengan
kembalinya Slughorn mengajar Ramuan, Snape kini mendapatkan posisi untuk
mengajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Profesor McGonagall mendorong Harry dan
Ron untuk mengambil kelas Ramuan, yang kini diajar Slughorn yang mau menerima
siswa dengan nilai OWL yang lebih rendah. Harry dan Ron, yang tidak membeli
buku teks karena tidak menduga bahwa mereka dapat mengambil kelas itu,
dipinjami buku teksnya dari kelas Ramuan.
Buku pinjaman Harry
sudah dibubuhi tulisan-tulisan petunjuk yang lebih tepat untuk membuat ramuan
dan mantra-mantra lain, dan dengan segera membuat Harry menjadi siswa Ramuan
nomor satu melebihi siswa lainnya di kelasnya. Harry menemukan di sampulnya
bahwa buku itu pernah dimiliki oleh "Pangeran Berdarah-Campuran".
Hermione mencari di perpustakaan namun tidak dapat menemukan apa-apa mengenai
nama ini. Setelah mengikuti petunjuk tulisan 'Pangeran Berdarah-Campuran',
Harry kemudian berhasil memenangkan hadiah cairan keberuntungan, Felix Felicis,
dari Profesor Slughorn karena keberhasilannya membuat sebuah ramuan yang sangat
sulit.
Ketika akan mengikuti
pertandingan Quidditch, Ron merasa gugup. Harry berbuat seolah-olah ia
menambahkan cairan keberutungan ke minuman Ron, untuk menaikkan kepercayaan
diri Ron. Akibatnya, Ron sukses besar menjadi kiper Quidditch dari tim
Gryffindor, dan mendapatkan cinta Lavender Brown. Keduanya berciuman di pesta
perayaan kemenangan Gryffindor di Ruang Rekreasi. Hermione yang melihat ini,
lari meninggalkan ruangan itu sambil menangis, diikuti oleh Harry. Kepada
Harry, Hermione mengakui bahwa ia memiliki perasaan kepada Ron dan mengerti
bagaimana perasaan Harry ketika Ginny, yang ditaksirnya, berciuman dengan Dean
Thomas.
Pada liburan Natal,
Harry menghabiskan liburannya bersama keluarga Weasley, sambil berdiskusi
bersama Mr. Weasley, Remus Lupin, dan Tonks mengenai situasi Hogwarts.
Tiba-tiba terjadi serangan Pelahap Maut yang hendak menculik Harry. Mereka
berhasil menggagalkan upaya Pelahap Maut itu, namun rumah keluarga Weasley, The
Burrows, meledak dan terbakar. Kejadian ini menyebabkan Harry menyesali diri
karena dialah yang menimbulkan bahaya kepada orang-orang yang disayanginya.
Dumbledore
mengungkapkan memori Tom Riddle—nama asli Voldemort—melalui Pensieve kepada
Harry, juga memori Slughorn di mana Riddle menanyakan mengenai suatu Sihir
Hitam. Sayangnya memori itu telah diubah Slughorn sehingga tidak diketahui
sihir hitam apa yang dibicarakan Slughorn dengan Riddle. Dumbledore mengatakan
bahwa Slughorn mungkin takut akan konsekuensinya jika pembicaraan ini
terungkap. Dumbledore juga percaya bahwa jika Sihir Hitam yang dibicarakan ini
terungkap, maka mereka akan memiliki jalan untuk mengalahkan Voldemort.
Karenanya, Dumbledore menyuruh Harry untuk berusaha mendekati Slughorn supaya
akhirnya ia mau memberikan memori yang asli.
Dengan menggunakan
cairan keberuntungan Felix Felicis yang dimenangkannya pada awal tahun masuk
sekolah, Harry 'secara beruntung' berhasil mempertemukan Slughorn dengan
Hagrid. Keduanya mabuk setelah upacara penguburan laba-laba raksasa Aragog
milik Hagrid, dan Harry berhasil membujuk dan meyakinkan Slughorn untuk
memberikan memori yang sesungguhnya.
Memori ini
mengungkapkan bahwa Riddle menanyakan mengenai Horcrux, sebuah cara dalam Sihir
Hitam untuk membagi jiwa ke dalam Horcrux sehingga pembuatnya tidak dapat mati
selama Horcruxnya tidak dihancurkan. Dumbledore mengungkapkan bahwa Buku Harian
Riddle (yang dihancurkan Harry pada buku kedua) dan sebuah Cincin milik ibu
Voldemort adalah dua dari keenam Horcrux yang dibuat Riddle. Mereka harus
mencari seluruh Horcrux dan menghancurkan semuanya supaya Voldemort dapat
dikalahkan.
Harry kemudian semakin
mencurigai tindak-tanduk Draco, mengikutinya di sekolah, tapi gagal untuk
mengetahui apa yang direncanakan oleh Draco. Harry percaya bahwa Draco ada
dibalik dua upaya untuk membahayakan hidup Dumbledore: yang pertama melalui
kalung mematikan yang dititipkan oleh entah siapa kepada Katie Bell (di bawah
Kutukan Imperius) untuk diberikan kepada Dumbledore sebagai hadiah; yang kedua
melalui sebuah botol minuman Mead beracun yang hendak dihadiahkan Slughorn,
juga terkena kutukan yang sama, kepada Dumbledore. Kejadian yang kedua ini
diketahui secara tidak sengaja ketika minuman itu diminum oleh Ron.
Ron kemudian dirawat di
rumah sakit, dan ketika sedang tidak sadar, ia mengigaukan nama Hermione di
hadapan Lavender, yang langsung patah hati. Setelah insiden ini, Harry
memojokkan Draco di sebuah toilet dan bertarung dengannya di sana. Harry
menggunakan mantera Sectumsempra, yang pernah dibacanya di buku milik Pangeran
Berdarah-Campuran. Mantera itu dengan hebat melukai dan membahayakan jiwa
Draco. Snape tiba dengan segera, terbawa oleh Sumpah Tak Terlanggarnya, dan
menyembuhkan Draco sementara Harry pergi tergesa-gesa. Ginny meyakinkan Harry
untuk menyembunyikan buku itu di Kamar Kebutuhan untuk menghindarkan dirinya
dari menggunakan buku itu lagi. Di Kamar itu, mereka menemukan Lemari
Penghilang, yang sedang diusahakan perbaikannya oleh Draco, namun baik Harry
maupun Ginny sama sekali tidak menyadari mengenainya. Ginny menyembunyikan buku
itu dan kemudian berciuman dengan Harry.
Dumbledore mengajak
Harry untuk membantunya menemukan salah satu Horcrux lainnya, di sebuah tempat
yang baru diketahuinya. Keduanya ber-apparate ke sebuah tebing tepi laut, dan
masuk ke sebuah gua tempat Horcrux itu disembunyikan. Di tengah-tengah danau di
dalam gua itu terdapat sebuah pulau kristal kecil, dan mereka menemukan sebuah
ceruk berisi cairan beracun yang di dasarnya terdapat Horcrux itu. Untuk dapat
mengambil Horcruxnya, cairan itu harus diminum. Dumbledore menyuruh Harry untuk
memaksa dirinya tetap minum cairan beracun itu, karena ia mengetahui bahwa
cairan itu dapat mengubah pikiran. Dumbledore menghabiskan cairan beracun itu
dengan dibantu-paksa diminumkan oleh Harry. Setelah habis, sementara Dumbledore
memulihkan diri dari cairan itu, Harry meraih Horcrux yang berbentuk kalung
liontin potret. Saat itu, sangat banyak Inferi (mayat hidup) bergerak dari
dasar danau dan menyerang mereka. Dumbledore berhasil kembali ke kesadarannya
tepat pada waktunya dan membakar semua Inferi itu, lalu keduanya ber-apparate
kembali ke Menara Astronomi di Hogwarts.
Dumbledore, yang masih
lemah akibat minum cairan beracun itu, menyuruh Harry untuk memanggilkan Snape.
Namun sebelum Harry sempat pergi, terdengar langkah-langkah kaki dan Dumbledore
menyuruh Harry untuk bersembunyi di sisi bawah tingkap Menara itu. Suara
langkah kaki itu ternyata adalah Draco, yang bersiap untuk membunuh Dumbledore
atas perintah Voldemort, tetapi—dari dalam dirinya—ia tidak dapat melakukannya.
Sementara itu, Lemari Penghilang telah berhasil diperbaiki sehingga Bellatrix
dan para Pelahap Maut lainnya berhasil memasuki Hogwarts melalui Lemari
pasangannya di toko Borgin and Burkes, dan menggabungkan diri dengan Draco di
Menara berhadapan dengan Dumbledore. Snape secara diam-diam datang melalui
tingkap bawah tempat Harry bersembunyi, memberi isyarat agar Harry tetap diam,
lalu naik ke atas dan bergabung dengan Pelahap Maut lainnya. Snape lalu
melontarkan kutukan Avada Kedavra terhadap Dumbledore yang langsung
membunuhnya. Kutukan itu menghantam Dumbledore dan melempar tubuh Dumbledore
jatuh ke bawah dari sisi Menara. Snape, Draco, dan Pelahap Maut lainnya
meninggalkan sekolah, Bellatrix melontarkan lambang Pelahap Maut ke atas
sekolah, lalu menghancurkan Aula Besar, dan membakar pondok Hagrid sambil
tertawa riang.
Harry berusaha untuk
menghentikan mereka, dan menyerang Snape menggunakan mantera Sectumsempra.
Namun Snape menangkis mantera itu dan berhasil menjatuhkan Harry. Sebelum
pergi, Snape mengatakan bahwa dialah pencipta mantera Sectumsempra dan bahwa
dialah 'Pangeran Berdarah-Campuran' itu.
Para staf guru dan
murid-murid Hogwarts berkabung atas kematian Dumbledore dan Ginny menghibur
Harry atas kejadian itu. Ketika ditanya, Harry sama sekali menolak untuk
mengatakan kepada Profesor McGonagall mengenai apa yang dilakukannya bersama
Dumbledore.
Belakangan, Harry
mengungkapkan kepada Ron dan Hermione bahwa Horcrux yang ditemukannya bersama
Dumbledore itu adalah palsu, berisikan sebuah pesan dari "R.A.B."
yang menyatakan bahwa R.A.B. ini telah mengambil Horcrux itu dan berharap agar
Voldemort tidak lagi dapat hidup abadi. Harry memberi tahu kedua rekannya bahwa
ia tidak akan kembali ke sekolah pada tahun yang akan datang, dan sebaliknya
akan mencari R.A.B. dan Horcrux-Horcrux lainnya supaya Voldemort pada akhirnya
dapat dibinasakan. Ron dan Hermione mengingatkan Harry bahwa mereka adalah
sahabat-sahabatnya dan mereka akan turut pergi bersama Harry dalam misinya itu.
Film ini diakhiri
dengan ketiga sahabat itu melihat Fawkes, burung Phoenix milik Dumbledore,
terbang menjauh dari batas sekolah Hogwarts.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar